Idea-idealy

MARAH PEREMPUAN

Share:

Aku menatap gelombang  yang bergemuruh tiada henti..Gemuruhnya sanggup menahan hatiku untuk tetap berdiri ditempat ini.Senja sudah menggantung di cakrawala  ikut membaca  kesunyian yang mendera. Saat itu tak ada kata ataupun suara, suasana sepi dan mencekam.Aku mengingat perempuan itu.Perempuan yang menyukai laut dan gelombang.Perempuan yang meninggalkan pertanyaan tampa jawaban.Perempuan yang meninggalkan bara api pada hatiku yang tak hilang oleh waktu.

Waktu yang berjalan mempertemukan aku pada sebuah lorong.Lorong yang gelap tampa titik cahaya.Lorong yang  menghentakkan tubuhku menjadi sedemikian tak berdaya, kecil dan kerdil.Lorong yang mengajak. nuraniku semakin memberontak dan menolak melawan kaidah-kaidah baku kehidupan. Lorong yang mengancam semesta untuk diam padaku saat  keyakinan dan keraguan terbolak-balik di otakku. Lorong yang mengantarkan aku padaarti  kedatangan dan kepergian.

Kedatangan telah menjadi kepergian hingga kecintaan dan kebencian tak pernah terpisah dari suatu evolusi.Atau ini adalah rasa yang kompleks yang baru disadari setelah kehilangan rasa yang lain.Rasa yang tidak boleh ada dan harus mati.Rasa yang sudah  kukembalikan pada tempat yang seharusnya.

Namun membunuh rasa itu tidaklah dapat mengubah apa yang dihadapi. menjadi seperti yang diinginkan. Menghilangkan itu tidak akan melenyapkan keseluruhan ingatan yang telah terlewati.Termasuk hari dimana aku tak ingin kehilangan mu

Hari dimana aku dapat mendengar  setiap detak jantungmu, harum aroma tubuhmu, nafasnmu, sentuhmu dan lekat matamu..Jiwanya yang bebas telah membentuk aku menjadi individu bebas yang merdeka lepas dari identitasku saat ini.Tak ada sekat antara dirinya dan diriku.Menjadi kita dalam bulatan rasa yang penuh pertanyaan. Pertanyaan yang kita rahasiakan karena takut akan jawaban.

Keberadaan dirimu membantuku merangkai kata demi kata, menjadi sebuah kalimat yang utuh.Kalimat yang ku punya untuk menjawab arti kebersamaan kita Kebersamaan untuk menjalani sebuah proses.Proses untuk bahagiakan mu, hanya untukmu dan  khusus bagimu.

Saat kita sama-sama terasing, keraguan terbersit di wajah murammu.Sekilas terlihat seperti ingin berlalu dan ingin terlepas dari apa-apa  yang pernah menjadi bagiannya.
 Tidakkah ini  terlalu dungu kau lakukan, setelah habiskan waktu untuk kita perjuangakan.Mengapa harus menjadi pecundang pada hari-hari yang telah menjadikan kita seoarang pembearani.

Tinggalkanlah kepencundangan itu sebab itu tak pernah membuatmu bahagia. Atau bersiaplah menjadi bayang-bayang bagi dirimu sendiri.Atau mari kita bicara baik-baik untuk menyatakan keinginan kita dengan otak dan hati kita  yang terbuka.Walau apa yang kau inginkan  dengan apa yang kuinginkan memang berbeda.Adakah kita sanggup memahami keinginan itu  menjadi kesepakatan sementara? Walau kadang waktu terlalu arogan untuk mempertemukan kita seperti dulu.

Tapi ini bukan masalah waktu.Ini masalah rasa yang benar atau rasa yang salah.ini bukan peristiwa yang terjawab dengan begitu saja.Ini adalah kesepakatan hati kita. Tapi mungkin tak akan terjawab juga, saat kehadiran kita  ada diantara posisi yang tak seimbang dan hati yang masih  saling berahasia.

Aku memang masih berahasia tapi tidak untuk berkhianat.Setiap hal yang terjadi tak pernah membawaku pada ruang yang tak kuingikan.Waktu terus mengutuk, sedang aku masih terbaring dengan ringkikan yang sama.Semakin tak menegrti kamu!!
Dan hal yang paling menyakitkan adalah jika semua menjadi sia-sia setelah waktu membawaku pada ke takberartian. Tak mungkin terlempar kedua kali, tapi manusia tak pernah memiliki kesetiaan untuk bertahan dengan kekonstanan yang nyata. Ibarat bom waktu, semua akan meledak dan berakhir pada waktunya.
                             
Aku tercipta dengan kekosongan  tingkat tinggi, satu saja yang kuharap, Tuhan mau memberiku sesuatu yang tak membingungkan, dan jika pengkhianatan ada semata itu bukan berkhianat, tak lebih hanya tak ingin terkhianat. Begitupun yang terjadi pada kita.Ini bukan salah ku!!! Ini salahmu perempuan berstella!! Matikan rasa ini, sebab ini menyiksa. Aku meminta. Aku telah MARAH. 

Pagi itu telah menjadi neraka.Mengapa harus terlepas lembaran kusam dengan muak yang memekakkan. Binal dan murahan. Tak adakah ruang yang lebih tertutup untuk kau peragakan adegan kampungan itu ? Dua perempuan dengan mahkota berlapis stella hanya sekedar kain di kepala, bermesraan di depanku.Aku bukan jalang yang pernah menjual tubuhku padamu.Dan hati ini mengatakan aku benci. Seentah-entahnya benci. Mesti ini tak cukup sebab bahasaku yang tak sanggup mewakilinya, telah terpatah di ujung lidah.Inikah rahasia itu?perempuan lain sebagai pengganti.

Tak perlu pembelaan diri. Dalam hidup itu tak ada kesalahan besar atau kecil ketika kita temukan kesalahan tetap saja itu salah.Rasaku padamu bukanlah rasa yang hadir tampa perhitungan.Aku tak pernah meminta matahari padamu!!Aku hanya ingin belajar hidup bersamamu, aku mengakui semuanya. Meski kau sudah bergegas pergi dengan nya.

Bersamamu tak pernah kubangun rumah di atas rumah, yang kubangun adalah sketsa saja, ku tahu tiang-tiangnya sudah rapuh bahkan satu kali tiupan angin saja akan jatuh berantakan. Setidaknya aku hanya tahu bagaimana mencipta sketsa kita untuk mempersiapkan senja. Meski kutukan tak pernah henti mengantar kita pada suatu pagi sebelum kau ciptakan lorong itu.

Kau tengah bertelanjang di antara pondasi yang kubangun, menciptakan garis abu-abu yang samar menjadi hitam. Lalu di mana kau sembunyikan saat ruang itu kita bangun?.

Kau membela diri dan mengajak kita memulai dari nol lagi, meski  memulai dari nol berarti  kau mengangkangi harga sebuah minus. Mari kita hilangkan kata menghargai, dengan kemesraan yang kau bikin di pelupuk mataku. Menyadari arti hitam bukan berarti menghilangkan putih, aku lebih tahu wajah-wajah kasmaran ketimbang kau mengatakan ini sebuah kebetulan. Alasan yang tak beretika!!
Percuma jika aku hanyalah datang untuk melihat kalian dengan gaya paling kampungan.(Sebenarnya kalian itu tak punya lagi bahasa yang mampu mewakili diri kalian selain bahasa binatang!!!!)
                             
Menjadi kaum kalian  saja sudak terkutuk, kukatakan kalian itu tak memiliki cinta, kalian cuma punya nafsu, dan hal terakhir  yang ku harap adalah kalian mampus bersama luka yang kalian berikan dan hancur dengan luka itu sendiri.Rasa sakit ini memang tak beralasan, tetapi cukup jelas untuk dijadikan alasan aku meninggalkanmu
                             
Perempuan yang memuja kaumnya, tak bisa lepas dari pendikotomian ruang rahasia, yang tak perlu ahli atau penerjemaah untuk mengartikannya.Keberadaannya yang sayup-sayup samar terbaca namun ada.Adakah hal menarik yang ditemuinya mampu menjadi proses, untuk kembali pada kelaziman, yang menurutnya tak lebih dari kontrol sosial, pranata yang gagal atau sekedar norma untuk dilanggar?
Kau telah salah menilai ini perempuan !


Dari cerita seorang perempuan yang kutemui.  10Agustus 05 (Jakarta)

No comments

Wisata Budaya : Eksisnya Tari Traditional di Zaman Modern

IDEAIDEALY.COM - Sudah bukan keanehan lagi jika memasuki era digital yang serba berbasis teknologi, fintech dan maraknya peranan o...