Idea-idealy

DARAH HITAM

Share:

Apakah aku berasal dari hati yang hitam?
Dari gumpalan cairan yang pekat?
Dari otot-otot yang berkarat ?
Dari sel-sel yang gosong?

Leluhurku mengatakan aku ini makhluk berandai yang hidup dari kebetulan, mungkin Tuhan salah cetak  atau otak salah tempat, namun aku bisa ada pada setiap api jiwa yang memanas.
Telah ku taklukan waktu menjadi karat, dan membekukan hati agar membatu. Yang ku tahu aku  hanyalah makhluk yang hidup dari masa lalu.
Matahari masih sama, ketika ku datang sebangsa malaikat yang gosong tanpa sayap,aku yang terbuang dengan wujud yang tak berbentuk.
                                   Makhluk terbuang sebangsa aku bukanlah pesakitan. Terlalu banyak basa-basi menjadikan segala tak pernah menjadi, melainkan nanggung, tergantung, tak jelas tanpa ujung.Aku berjalan pelan.
Pada  senja yang  tak pernah beri makna sebab kabut menutup mata-mata buta kemewahan yang tertutup lubang ketamakan. Tangan-tangan kebajikan berlomba dengan  janji-janji, jilat menjilat atau sekedar pura-pura.
Di mana tanah tak lagi membela diri sebab telah hilang rasa. Akulah pembawa bala menggantikannya menjadi hitam.. Di mana letaknya mata air? Dalam hati dan otak-otak yang telah retak terendam oleh gugup dan rasa malu tak berkesudahan.
Sejuta atau sekian persekian waktu membeku, menjadikan cairan hitam menggumpal. Darah yang hitam ini menuntut sekedar ingin kau mampus. Mata setan, mata kecil, mata itu milikmu yang telah merenggut sekian waktu darahku.

Tubuh gosongku tahu di mana ku berdiri pada tanah leluhurmu yang memberi kau pusaka. Ku taburi benih. Kotor dan rakus sekedar menjadi raja murahan di rumah orang.Sebagian darimu tak menyadari.Cairan hitam ini kecil itu telah menghantam apa-apa yang menjadi leluhurmu wariskan.
         Darimanakah darah hitam ini mulai meluap? Dari makhluk-makhluk picik yang menyusup  dengan meringkukkan badan lewat pendidikan, perekonomian, politik, keamanan,  bahkan kontes ratu kecantikan.Apa-apa yang dia beri hanyalah menjadikan cairan hitam ini mendidih.
       Sebab aku memprosesnya habis-habisan setelah otak dan energinya disedot, lalu perlahan disulapnya menjadi robot dengan mencomot ide-ide dan mematikannya.Ditelanjangi habis-habisan setelah diambilnya darah segar sebagai tumbal, jiwa-jiwa dikerdilkan dengan ancaman dan makian. Lalu dikerangkengnya dengan mulut tersumpal, dan sebagai rasa takut dan gengsi diberinya kafan sebagai upah.
Leluhurku menangis dengan cairan hitam ini makin pekat. Ke mana dentuman ini harus terbuang? Tempat di sini terlalu pengap untuk muntah!
Cairan ini  mestinya dibakar habis sebab dia hanyalah kotoran yang menjadikan bunga-bunga kuncup tak bermekaran dan mati.
          Riuh penuh peluh. Detik bertumpu pada kilatan detak pelan. Retak tanahmu karenaku, segala hancur dengan rapi. Cairan ini benalu, penjajah, penghisap, pendobrak, penghancur, pembunuh..
Aku ingin  cairan ini binasa agar darahku tidak hitam lagi.
16 Oktober 2007(Jakarta)

Tidak ada komentar

Wisata Kuliner : Rubist Café - Cita Rasa dan Performance

IDEAIDEALY.COM- Hi Dear kayaknya masih betah banget sama ajakan teman untuk keliling -keliling   Bandung Timur nih hehe. Ak...