Idea-idealy

WAJAH SETENGAH BAYA (2002-2004)

Share:


11. WAJAH SETENGAH BAYA
Selendang lusuh dengan bakul dekil
Berjalan lemah tanpa alas kaki
Sahaja membelah kebaya tua
Menanggung dosa di masa lalu,
wajah setengah baya!!

Menua dengan waktu yang membusuk
Mengutuk hidup dengan bayi di gendongan
Berjalan di kabut pagi
Matanya berkaca-kaca
Berjalan tampa keseimbangan

Wanita itu berteriak
Menghujat laki-lakinya
Sang bayi mengamuk
Menangis pilu
Tak mengerti apa yang terjadi

Wanita itu tersenyum
Mendapatkan uang recehan
Matahari makin tinggi
Sang bayi masih menjerit
Dengan tangisnya yang terkeras
 20 Mei 2003

12. TERLEMPAR
Terlempar dari mimpi-mimpi
Menit bergetar lalu rontok menghanyutkan ku
Tidak habis-habisnya menghembuskan nafas
Terlantar di pelantaran pojok yang pengap
Meski masih hidup, menit yang ini disapu
lalu digantikan menit-menit berikutnya,
Masih baru, tapi tak kurang hampa dari sebelumnya
Kebahagian kian mengerikan,
Keterlantaran telah menjawabnya
Plot kehidupan yang bergumal dari kantung-kantung penguasa
Telah menjebak dalam melodi tak berirama
Demikian aku berjalan di antara duri ,
Menyelusuri katup-katup demokratis
Sebagai kebebasan yang membingungkan
Peluh menghentak
Alam kematian kian absurd
Batas nilai di ujung rupiah,
Bimbang menyapu otak sebelah kiriku
Menghempaskan pujian negri yang elok
Bolong dan rombeng pakaian mahasiswaku
Pertegas kecongkakan diri
Dari sekian bangsa yang angkuh
Degup merah putih yang terkoyak
Membawaku ke tong sampah
29 Januari 03


13. APORIA
Berlari terus dan terus
Terkurung. Pengap. Basah
Satu-satu tumbang
Esensi dan eksistensi?
Manusia?
Berlari terus…
Semak-semak menusuk
Gemerincik  terpekik
Moral? Kemanusiaan?
Apologi idea?
Berlari terus…
Tercabik gaum
Diinjak, terinjak, menginjak
Humanisme? Relatifisme?
Terbujuk sofisme?
Berlari terus…
Terus….
 12 Nov 02


14. DARI SEGALA YANG KAU TAHU
Mungkin kau tidak percaya
Namun tak menuntut tuk percaya
Bahwa rasaku itu teramat besar
Hingga tak mampu katakan:
“aku mencintaimu”
mungkin kau tidak percaya
jika kaulah cahaya
yang sanggup rasuki kaku jiwa
hingga aku tak mampu katakan:
“aku mencintaimu”
Mungkin tidak akan percaya
Tak ada satu ruang pun dalam batin
Ruang kematianpun
Hingga ku tak mampu
Ingin miliki mu karena aku tak bisa tak miliki lagi
Mungkin kau tak percaya jika sebaiknya tak ku katakan:
“aku mencintaimu”
mesti aku mencintaimu lebih dari segala yang kau tahu


9 juni 02


15. DI BAWAH KAKI
kerdil sungguh kerdil jiwamu
kau pikir kau bisa
hidup dengan kematian
segala norma persetan
ku tantang sistem pelaziman zaman
ku hirup semua sumber kepuasan
segala iblis bersamaku
etika hanya tipuan
susila jadi tameng kebobrokan
Lalu agama…hanyalah ludruk kemaksiatan
bodoh , sungguh bodoh
Terlindas dan tersisih bangkai
Buruk lagi berbau tanah
Kita sama-sama bangkai
Tak usah saling membunuh

27 april 02


16.KARENA AKU INGIN
Jangan kecam langkahku di atas
 Atau di bawah sadarku
Aku ingin menuju pada cahaya
Tak perlu rasuki aku dengan doa
Coba kau pandangi aku
Ya…. Seperti itu (sedikit saja kau pandang aku!)
Aku tidaklah jalang atau liar
Namun aku ingin sepertinya
Yang kadang menatap ku tajam
Adalah inginku jika aku ada
Dalam malammu, siangmu, dan pagimu
Melampaui jembatan waktu
Dalam kurungan yang disedikan
Kesalahan menjadi kebenaran
Sekejap saja kau pahami
Aku tidaklah musuhmu
Aku selayaknya wanita .Wanita seperti ibumu

12 mei 02


17.MARI MENDEKAT LAKI-LAKIKU
Mari mendekat kemari laki-lakiku!
Kita bicara tentang air dan alam
Duduklah pelan dan dengarkan
Mereka tak akan marah jika kita paham
Jangan lempar pohon itu dengan teriakmu
Rumput-rumput di bawahnya pasti akan terbangun
Mari medekat kemari laki-lakiku!
Kutahu nalurimu emas
Bicaralah pelan dan pandang riaknya perlahan
Kau akan terbangun dari tidur berkepanjangan
Saat  Akasia membidik kedua  bola matamu
Mari mendekat kemari laki-lakiku!
Sejuk kedipan manja pucuk ilalang
Jangan meragu pada diri yang menjadi
Sebab segala yang kau sentuh adalah kekasih

2 juni 03


18.ADALAH.. DAN BUKAN…
adalah Papa dan bukan berarti Bapak
tidak pula ada semacam pertautan
merayap tanpa genetika cultural
mengapa itu di pertanyakan?
Jika kasihnya melebihi sepantasnya?
Menjadi Bapak adalah menjadi Tuhan
Sebab dia pahlawan sang anak
Apalah susahnya menaruh benih pada rahim
Itu bisa di lakukan para penjantan
Namun mampukah diri pahami maknai dan hargai
Sebuah peran untuk sang anak
Pada Papa dan bukan berarti Bapak
Ku hanya bisa titipkan wajah bangga pada arsiNya
Sebab aku tak ingin pulang pada panggung seadaanya

13 mei 0

19.JANIN
Apalah artinya disisakan jika untuk di habiskan
Melewati rahim sang binal atau terhormat
Sama saja kau itu ibu
Atau sekiranya kau melahirkan
Kau akan kehilangan payudara??
Mengapa gundah dengan perut yang membuncit
Padahal kau nikmat akan keringat ‘perut yang buncit’
Tak ada pisau tajam yang dapat keluarkan
Nafas mungil dari kodrat
Tak perlu resah akan gaun yang kembung
Atau urat-urat yang mengendur
Dari montok tubuh yang reyot
Kau akan bangga pada tangis dan ompolku
Biarkan kau nista atas norma
Tapi kau puji bagi segala ibu
Biarkan mataku memandang
Karena aku tak tahu berada dalam suatu kesalahan
Atau ketaksengajaan kau dan laki-lakimu!
18 mei 03






20. BAGIKU , BAGINYA
Untuk sebuah proses waktu yang gilang gemilang
Dari sekian terang tak pasti itu sengaja atau tidak
Ataupun tak pernah tersengaja dari sekian kelaziman
Yang usang atau yang baru,aroma harum atau busuk

Tampak ataupun tak tampak bahkan mungkin
 Hanya samar garis tipis sekalipun
Bagiku, Baginya !! dialah nilai.
Telah  menantinya di setiap ambang petang dan fajar.

Hingga sesak sebagian rongga nafasnya
Telah menutupnya untuk tetap berada
dalam lingkaran agungnya terus dan terus
Memupuk keyakinan, agar digantinya dengan pengkhianatan.

Tak sekalipun ada lorong yang bolong menuju apapun itu
Atau sebuah pelenyapan 
Karena Bagiku , Baginya telah bersama
 Dalam keakuan yang mengaku,

21.BERSATU
 Dalam kecakrawalaan yang tak terbatas.
Entahlah apakah lalu akan menjadi kini
atau kini akan menjadi kelak.
Dalam perseteruan  jiwaku dan jiwanya
Tak bisa tersentuh dan menyentuh
Peradaban yang tercipta dengan kasat mata.
Bukan pula kalbu  telah mengangkuh
 Atau kesadaran mengubah peran ketaksadaran .
Telah ku rangkai mimpi itu menjadi narasai berjalan,
Membunuh sekantung narsis ke dua penghakikatan.
 Bahkan tanganku ku sambung tuk raih seribu tangan ,
 Adalah alamku untuk bersamanya.

16 juni 03


21.BUNGA GUNDUL UNGU 2
Kali ini aku tak bicara pada bunga gundul ungu
Sebab dia enggan bicara denganku
Katanya bosan ada dalam botol plastik rombeng
Pernah  kurayu dan ku pindahkan ia ke mangkuk bening
Tapi malah mecaciku dengan menusukkan runcingnya
“Ya … kau marah padaku sebab aku tak mau pahami !”
Dia membisu memonyongkan kegenitanya
“Tak perlu datang kemari, sebab dia tak ingin kau kemari”
 Sapu tua mengusap hening di penjuru pintu.
Ku benamkan sekian tuli  pada sofa merah hati
Dan menutup mata sejenak untuk membutakan cahaya
Tapi sofa merah hatiku, menolak tubuhku
 Dia mendorong ku ke pelataran karpet yang membau
Mataku mengejang dengan muka yang mengerut
Ku pandang mereka satu persatu
Di sisa bijak ku mengadu:
“ Dia datang sambil terbang, mana sanggup kedua  tanganku menangkapnya” Aku berlalu.
20 Juni 03


22.TERUSIK
Terusik, tergertak,tersentak
Puing –puing hati nan tenang
Yang lelap damai di alaun sepoi
Bermuara tuk berlabuh lagi

Sebercik gemerincik
Puing-puing hati
Mungkinkah?
Hati yang damai kembali gundah

Bukankah mencinta hanya satu kali?
Tak kala ada yang selanjutnya
Kemelut, terperosok aku
Pada yang tak terpahami

Tak ingin tapi ingin dan tak mungkin
Letih ku berdalih
Mencari pembenaran
Pengkhianatan atau kelalaian?
12 Nov 02


23.JIKA AKAL DAN HATI
Jika akal di Tuhankan, lalu hati di asingkan
Maka Tuhanku adalah kuno
Dan terjatuh dari singgasananya
Alam langit pun terpuruk derajatnya
Menjadi profen hanya sekedar langit
Neraka dan surga hanya  bentuk
Sains goncang, religi yang  absurd
Keduanya di belenggu ragu
Kemanusiaan telah bungkam
Mati dalam hukuman.
 Tinggalkan bangkai
Tanpa kepastian.

25 April 02

24.TENTANG DIADAKAN
Aku terjepit di ruang peradaban
Segala tubuh yang berkata
Sebab manusiaku hanyalah tulang
Lalu pencarian memanusiakan
Lusuh, telah kumuh kertasku
Nampak warna pembangkangan
Coretan hitam, hitam lagi pekat

Telah hilang putihnya
Terbentur zaman
Tak ada sekat antara iblis dan malaikat
Cobalah kau kembalikan
Aku pada Tuhanku,
Sebab aku ingin bicara baik-baik
Tentang adaku diadakan
 12 Nov 02


25. DIA 1
Telah ku berikan segala sapa
pada burung-burung gereja
 dan pohon tua di sekitar rumah Tuhan
 Padanya bicara tentang sesuatu
yang tak bisa tersentuh, maha halus
dari mata besar yang tak bisa berkata “ Iya”
 aku seperti sepatu tua yang selalu menunggu
 di ujung ingin yang tak sampai,
 tetapi tetap dia berlindung
 di senyumnya yang paling sadis
 dengan suaranya yang paling nyaring “Tidak”, katanya.

26.DIA 2
Jika harus memohon lagi,
gigi tua ku tak sanggup lagi gigit sakit,
 dan kadang kerut keningku bertambah mengkerut
 lebih dari biasanya.
 Dia terus menghakim
dalam diam yang tak berujung,
mungkin ku harus pergi
tapi tetap dia mengejarku
dari balik pori kulit yang terlihat sekalipun.
 Bagaimana harus ku tebus
sekiranya harga tak sanggup lagi menilainya?
 12 Juni 2003

26. BINTANG YANG ANJING
Sesuatu yang sempat ku hisap itu nampak samar
Demikian kegagahannya telah menjadi anjing
Dia menjamur diatas tanah basah yang lapuk
Aku telah sekarat menunggunya

Hingga ingin mencabik jantungnya
Membirkan darahnya mengalir deras
pada setiap sel tubuhnya
Kuku tajamku cukup kuat menoreh

Kedua mata tajam yang mengangkuh
Dan akan kulumat cairan merah itu
Hingga dahaga ku raib
Dia meronta memperlihatkan otot dan gaum

Namun tubuhku telah ada di atasnya
Sesaat ku beri nafas untuk melihat dunia
Sebelum tertidur untuk waktu yang tak terhitung
Inilah hadiah untuk bintang  yang menganjing

Sebab kau telah mematikan hariku menjadi sekedar
Kucing kudisan yang menunggu dan siap di adu.
Terpenjara dan makan tulangnya sendiri
Kematian kini menjadi sangat murahan


12 mei 03

 27.AKU SUDAH TAK BISA
Aku sudah tak bisa mencintai lagi
Sebab hatiku kini habis di makannya
Mungkin hatiku tak akan tersentuh lagi
Terlalu remuk di redam janji

Demikian tak punya sedikitpun
Rasa ingin dan inginkan
Aku telah mengentikannya
Membekukan setiap deru

Maafkan jika ku minta pahami
Sebab raga sudah tak bisa lagi
Rasaku sudah dihanguskannya
Semenjak kau membakarnya.


17 april 2003


28.JANGAN BIARKAN DIAM
Jangan biarkan diam,sebab ruangan ini akan berganti
menjadi lautan, katakan sedikit saja puji-puji itu
Untuk menjadikan kursi tetap menjadi kursi.

Jika kau biarkan diam, sebentar lagi saayapku
 mengajak terbang, sentuhlah setiap inci tubuhku
Agar ku tahu kau laki-lakiku

Bicaralah di antara mata yang basah
Dan asap-asap yang mengepul
Yang bertanya bingung

Kita telah kehilangan makna
Membiarkan waktu tidak berwaktu
Padahal aku tetap menunggu di kursi ini

15juni 03


28.BICARALAH 
Bicaralah pada detik, pada detak,pada desah,
pada titik,pada cumbu,pada rasa,
 pada kata,pada peluk,pada nadi,
 pada keringat,pada hangat,pada nikmat
bicaralah pada apapun yang terasa
Katakan padanya:
Apapun yang ku sentuh adalah kekasih
sebab kekasihku ada pada setiap apa  yang kusentuh
dan disitulah kau temukan aku
dalam ketakdiaman yang nyata
 seperti kenyataan yang tak pernah diam,
 Bahwasanya aku mengasihimu
Sebesar keberadaan yang tak terbatas diadakan.

 Di rumahmu, 6 Ags 03

29. PAK TUA
Pak tua..!!
Aku datang tanpa merasa diriku berbeda dari bocah iingusan
yang lima belas tahun lalu mencuri mangga muda di kebunmu .
Ada keheningan yang maha hening
membantai tangan-tangan melambai penuh sorak sorai.
 Rongga dada menjadi sunyi ,
 sesunyi mesjid-mesjid para Nabidan biara gereja
 Ku temukan kosong dalam semesta yang serba halus,
 ketika mata menatap wujud tidak lagi berwujud.
 Dan serangkaian gerak yang seketika  tidak lagi bergerak.

Pak tua..!!
Ada suara yang memanggil
 bagai musik yang melantunkan lagu
 dengan lirik langit yang agung,
 meninggikan sekian kenistaan
yang ternista dari bilik hati kumuh.
Kurindu bunyi-bunyi dari kesahajaan
 irama alam yang dulu kau ajarkan
telah tidur lelap menyembunyikan bijak
 diantara selimut dan dengkur berkepanjangan

Pak tua…!
Bagaimana aku bisa sembunyikan
sekian gelisah di balik warna emas kemilau
 bungkus tubuhku dan merahnya gincu di bibir beku yang kian terkatup.
 Mataku kalap memanggilmu
agar kau datang tanpa merasa diriku berbeda
 dari bocah ingusan yang lima belas tahun yang lalu
mencuri mangga muda di kebunmu
Aku merindukan nasihatmu…
21 juli 03

30. SMS PELAJARAN
27 06 03 Tidurnya orang berilmu (yakin ) lebih ditakuti syetan, dibandingkan ibadahnya orang soleh yang bodoh.
27 06 03 Wahai filosofis muda yang aku sayangi! He..he… berfikir sejenak itu lebih utama dari ibadah selama 1 tahun. Siapa & Mau kemana kita ini sebenarnya?
27 06 03 Temanilah aku dalam kegelisahan ini, andai kau adalah jiwa yang tenang… kecerdasan, keraifan & kebeningan hatimu, menjadi kebanggaan bagi orang orang di sekitarmu ‘ Terutama Aku’
 28 06 03 08:23 Masih ada nafas untuk melangkah ke satu jeda berikutnya. Mesti masih sama seperti kesendirian yang terasa bersama. Nurani kadang fahami arti ada maha halus yang tak bisa tersentuh.
28 06 03 Kematian semakin dekat tetapi kebodohan masih menghinggap di jiwa ini
28 06 03 17: 37 K , sebenarnya kamu= “sesuatu”  yang melebihi nilai sesuaatu
28 06 03 Nafas, langkah dan harapan adalah pantulan spirit sebagai akibat dari sang penyebab. Rasa takut akan kesendirian adalah wujud kelemahan & kekerdilan.
28 06 03 Kehalusan yang tak tersentuh adalah percikan CintaNYa yang terwadahi dalam nurani yang suci. N…. Kesadaran terhadap semua ini akan membawa kita menjadi manusia yang luhur, santun,rendah diri dan bersahaja.
28 06 03Bersiaplah untuk kecewa, kalau kau menggantungkan dirimu pada makhluk (materil).Termasuk makhluk  yang bernama manusia.
(sesui kutipan percakapan by sms )


31. JIKA SEGALANYA
Aku telah titipkan semua ini pada Nya
Jika segalanya menuju pada ketiadaan
Apalah artinya memiliki lagi karena apa yang telah
Terdapat kelak tak akan terdapat lagi
Biar segalanya berjalan pada suatu keseharusan
yang sewajarnya telah ada tanpa ada pengadaan
Atau ketiadaan
Cinta itu hakiki Tuhan
Semua pastilah menuju Nya
Selayaknya terhenti sebagai kewajaran
Pencinta bukanlah pendusta bagi dirinya
Dan mencintai adalah kebebasan
Sang tercinta yang gemilang itu selalu tampak
Sebagai pijar emas berwujud atau tidak berwujud
Dia akan hidup dalam setiap detak
Sang Maha Kasih.
24 Juli 03

32. AKULAH……..
Akulah keindahan yang diperdebatkan manusia
Aku tak berumah namun berada di setiap api hati
Bahkan di luar mata yang basah
Aku tak tertangkap mersti dekat melekat
Aku ada di setiap tempat mesti tempat tak bertempat
Tak satupun bisa mencapai ujungku
Dia akan jatuh  atau sakit
Aku bisa meletakan diriku
Diantara jari jemari sang penyair
Hingga sang pena kelelahan mengukur ekorku
Namun. Manalah mungkin
Sebuah pena bisa mengukur samudraku!!
Dan jika kau mengenal aku
Maka kau tak perlu mengenal yang lain
Sebab yang lain tak akan mencapaiku
Akulah……
25 Juli 03

33.KAU LARA
            Senja berkabut
 bagi sebuah perjalanan
 ini adalah gulita,
 mengapa harus kutitipkan rindu
 bila waktu tak sanggup menghitungnya,
adakah kekuatan yang maha kuat
 akan mengubah sekian angkara di ufuk sana
 atau membiarkan cahaya datang
dalam bilangan tidak berlambang
 kau adalah  senyap, kau lara, kau sunyi, kau maha sendiri.
           
  29 November 04.

34. COGITO
Dalam hening
Saat ketaksempurnaan ini
Mencari bentuknya
Yang belum ditemukan

Aku yang terlihat
Berdiri dan berjalan
Pada tubuh yang kelelahan
Masih mencari

Dalam diam
Saat kekosongan ini
Mencari isinya
Yang menghilang

Aku yang tak terlihat
Berpikir dan merenung
Pada roh yang melayang-layang

12 Juli 2005

 35.RAHASIA HATI 1
Masihkah kau sendirian di kesunyian malam
Dengan sepi yang penuh rahasia?
Ku berteriak dan mengejarmu
Namun bidikan sunyimu mematikanku!!

Apakah benar tak ada rasa
Dibalik tubuh-tubuh yang bersentuhan?
            Kepengecutanku yang liar  ini
Tak bisa menjinakan keliaran pola pikirmu!!

Padamu  jiwa yang terbelah-belah
Membuat ku mabuk dan tak berdaya
Disandera kehampaan tampa tujuan
Ku menyudahinya dengan kerahasiaan!!

Tentang malam pertautan itu
Tentang norma-norma yang terinjak
Tentang ketidak normalan ini
Tentang pertaruhan hidup kita

Tentangmu yang ku cari di setiap tumpukan warna
Tentangmu yang kugariskan pada setiap kertas kosong
Tentangmu wajah absurd yang tak pernah selesai ku lukis.
Mengapa ku sulit sekali mengukir tentangmu??
 Padahal akulah pelukisnya!!

2 dec 20

35. BAYANGAN YANG SAMA
Kita ada di suatu ruang yang sama,
Dengan bayangan yang sama
Dengan tangis yang sama
Dengan luka yang sama
Dengan kecewa yang sama
Dengan kehilangan yang sama
Dengan kegagalan yang sama
Dengan keterasingan yang sama
Dengan kesunyian yang sama
Dengan kekalahan yang sama
Dengan kesakitan yang sama
Namun hati kita berbeda.
Hati yang terbunuh oleh arogansi
Kita bersaing
Dengan diri kita masing-masing


2005







36. MEMBUNUH DETAKKU

Aku takut kau tahu
Aku sedang  berahasia
Setelah ku baca sketsamu
Perempuanmu tidak hanya aku.
                       Aku berlari membunuh detakmu
                       Dibalik pertanda yang menyisakan tanya
                       Dan luka  berkepanjangan.
 Dari bidikan rindu
Yang sengaja  tak ku beri judul.
Aku tetap mengingatmu
Dalam karang terkeras hatiku


2005

37. INGIN BERSAMAMU
Kau selalu mengajaku
Membaca makna
Pada simbol-simbol yang kau ukir
Pada garis yang kau mainkan
Pada semua lambang yang kau sakralkan
Aku kelelahan mengikutimu
Hingga aku mati kata
Padahal kau tahu,
Hanya kaulah yang sanggup
Mengartikan dan membahasakannya

Aku hanya ingin bersamamu
membaca sunyi
mengusir sepi
meredam marah
berbagi rindu
berbagi  hangat
berbagi rasa
mengisi hati
membunuh kosong

2005




38. YANG PALING DIAM-DIAM

Dunia kita yang diam ini
Takan sanggup memaklumi
Bagian cerita kita : yang paling diam-diam
                        
                       Apakah kau masih menyimpan
                       Sebuah saja coretan wajahku
                       Pada dinding terkeras hatimu

Pada  ratusan bahkan ribuan
Warna yang kau tumpahkan
Masihkan aku ada didalamnya

                       Yang paling hitam sekalipun,
                       Yang kau sembunyikan rapat-rapat
                       Yang kau palingkan  dari kenyataan

2005


39. TOKOH PENDAMPING
Apakah benar tak ada rasa
Pada tubuh kita yang bersentuhan?
Apakah semuanya hanya persinggahan
Pada jiwa yang memberontak.?

Hanya permainan singkat
Pengisi otak yang mumet.
Petualangan yang liar
Kebinalan yang terkonsep

Meski aku bukan perempuan
Yang ikhlas berbagi rasa
Antara imaji yang kau ciptakan
                         Dengan realita yang disembunyikan

                       Aku lah yang akan menjadi
                       Tokoh pembanding pada hidupmu
                        Yang terpasung diantara
                        Kenyataan dan keinginan

                            2005


40. RAHASIA HATI II
Masihkah kau sendirian di kesunyian malam
Dengan sepi yang penuh rahasia?
Aku tak sanggup menghapus jejakmu,
Meski dirimu hanya menjadi sebuah rahasia

Dan aku mencarimu
Dalam perjalananku yang diam-diam.
Mungkin saja kau berada diantaranya.
Dibalik garis dan warna itu itu

Yang bukan bagian dariku,
Yang tak ingin aku mengenalnya,
Yang tak pernah beres aku menyimpulkannya,
Yang menggantung dengan persepsinya

Aku masih mengejarmu
Sekedar menyeimbangi
Setiap langkah dan keputusanmu
Yang tak pernah bisa kupahami
Mengapa dirimu sulit sekali kumainkan ??
Padahal akulah tokoh utamanya!!! 

2005





41. PEREMPUAN INDAH SUCIKU!!

Aku laki-laki mencintai engkau perempuan
Yang selalu baik dan agung
Walau menurutmu aku buruk dan terkutuk
Dengan permainan cintaku yang terbagi
Namun aku tetaplah pemujamu!!

Aku harus berbagi dan berdusta
Tapi demi kaulah cantikku
Aku tak pernah peduli kau berpikir
Sebab kau tak bertugas untuk itu
Perempuanku hiduplah dengan takdirmu!!

             Jangan ubah kecantikanmu
Menjadi kemarahan dan kebencian
Keserakahan dan kesombongan
             Karena engkaulah ibu dari anakku
             Perempuan indah suciku!!
2007 (lyrik biola Deny dipartadisastra)




42. SIAPAKAH DIBALIK??
Ada yang tak dilahirkan,
 tak menjadi, tak diciptakan,
bahkan tak tersusun.
                        Atau sebaliknya.
Tak ada yang tak dilahirkan,
 tak menjadi, tak diciptakan
dan tak tersusun
                       Maka tentu tak akan ada jalan keluar
bagi yang dilahirkan,
yang menjadi, yang diciptakan
dan yang tersusun.
                       Tetapi karena ada yang tak dilahirkan,
yang tak menjadi, yang tak diciptakan
dan yang tak tersusun, maka ada jalan keluar
bagi yang dilahirkan,
yang menjadi, yang diciptakan
dan yang tersusun.
Siapakah yang ada dibalik yang dilahirkan
yang   menjadi yang diciptakan dan yang tersusun??
2004

43. KEBERUNTUNGAN
Bermula dari hampa,
kosong tiada nilai
hancur menjadi jejak
tak terbilang. Dalam panik
Di antara seratus persen
yang kau tunggu
sembilan puluh sembilan persen
keberuntungan  
                         satu persen saja keyakinan.
 Tak ada  pertanyaan,
sebab bukan lagi alasan.
Tercipta dari mata-mata sembab,
keringat dan ide-ide berlian.
Wajah-wajah tegang
kepala pecah terbelah
Hancur tak bertahan!!

2006.



44. TIDAK JADI BENTUK
 Saat identitas tak menjadi lambang
Materi tidak jadi bentuk.
Tidak ada norma atau batasan
 Segalanya telah berubah
Ada nyawa yang terkoyak,
Kematian semakin mendekat
 Hidup akan berakhir
 Logika telah bungkam
Ide sudah  mati
 Tak  ada realitas yang  stabil dan konstan,
 Yang  bisa dipahami kekuatan nalar,
Atau realitas yang lebih utuh,
Permanen dan profan
 Bergerak dan  berubah,
 Tubuh ini menipuku
Tidak bisa dipercaya!!

2006



55.ANGKA NOL
Nol  sebuah angka
Kosong yang absolut.
Bebas tak terikat.
Nol telah menjadi angka yang ditunggu
Perubahan terlahir.
Keterbelakangan dan keberlanjutan
Perhitungan hidup
Angka nol adalah abadi.
Tak pernah diwujudkan ataupun dimatikan
 Dalam setiap pengulangan
 Tak mengalami pasang surut,
Bukan ada sebagian dan jelek sebagian,
 Bukan indah pada suatu saat
 Dan jelek pada suatu saat,
Bukan indah dalam kaitannya
Dengan hal ini dan jelek dengan hal itu,
Tidak beraneka
Tetap unggul dengan kekosongan
Mari menuju anangka
2006

46. KEMANUSIAAN
Dalam ketelanjangan
Mereka saling mencakar, menjambak, memukul,
Menggigit, menjepet, menolong,
Menikam, mencekik, menyiksa, menyayat,
Memukul, menghantam, menginjak, menonjok,
Membunuh.
                       Lautan teduh biru langit.
                       Berubah menjadi lautan merah
                       Darah-darah telah mengubahnya
                       Menjadi pulau kecil berbau amis.
                       Dan tubuh-tubuh tidak lagi terhormat
Bongkahan daging  lapuk berbau busuk.
Bau amis bercampur lalat dan belatung,
Tubuh-tubuh telah  membusuk
T ulang belulang berserakan,
Usus-usus berhamburan,
                       Kematian  dengan adegan yang abnormal
                        Mulut yang menganga.
                       Mata tak sempat tertutup,
                       Sebagian melotot dan terbelalak
                       Dimana letaknya kekemanusiaan.2006
47. TAK TERHITUNG

Sebuah permulaan adalah pertanda,
 Bahwa segalanya akan berakhir,
 Hitungan yang ditunggu selalu tak pernah sama,
Sejatinya  keabadian adalah perubahan.
Mengediplah sebentar
Ada kekuatan yang berlebih
 Sebab Dia tak terhitung.
 Keberadaannya permanen, stabil, abadi,
Tak lapuk oleh waktu, tak pernah mati,
 Tidak dilahirkan dan tidak diciptakan.
 Kekuatan, anugrah,kebahagiaan, perlindungan,
Tempat berteduh, rasa aman yang tak terpunahkan,
 Kebenaran sejati, realitas tertinggi
Bahwa Ia adalah kebaikan,
Tujuan puncak dan satu-satunya
Kedamaian abadi, terselubung dan tak terpahami.
Dia  ada di balik yang di ciptakan
2007





48.TIDAK MENJADI APA-APA
Menjadi diriku adalah hal yang paling aneh.
 Hidup bukanlah permintaan
Dalam jasad yang kotor, hiruk pikuk dan kumuh.
Mungkin ini lebih baik daripada tidak menjadi apa-apa.
                 
Hal terindah adalah gelap dan pekat,
Tubuhku menjadi seperti awan hitam
Menuai badai,membuat petaka dan carut marut
Seperti ketika aku keluar dari rahim sang mulia:

 Menangis dengan simbahan darah
Dan pertaruhan nyawa seorang mulia
Yang terhinakan karenanya
Kemulian yang ternista.
2007




49. RAPUH
 Aku telah menjadi satu
Dalam tubuh yang tak ingin rapuh.
Hingga sunyi dan malam
 Menjadi cinta selamanya.
Aku tak ingin menjadi apa-apa,
Aku masih tetap ingin begini
 Meski hidup dalam kubahan yang kotor
Sebagai generasi yang terbuang
Dari kumpulan peradaban.
Menjadi begini sudah cukup
 Tak ingin aku mengadili siapapun
Setahuku  Tuhan menjatuhkan aku
Begitu  saja ditempat ini.
Tempat terkutuk yang di nistakan orang
 Tempat ternikmat  bagi orang-orang yang kesepian.


2007




50. EYANG
Raut mukanya demikian unik
 Dengan mata yang berkantung hitam.
Tak ada gejolak pada mata itu
Tinggal semangat yang hampir meredup
Mungkin karena usianya yang hampir 100 tahun
Usianya yang tenggelam
Seperti derit pintu yang enggan menutup.
Aku meraba kulit Eyang.
Keriput dan menciut
 Nyaris terkelupas dari tulangnya
Takjub ini menyesakan
Hampir serupa jerangkong.
Lembek pipinya seperti lemper kedinginan.
Matanya serupa kabut
Bening dan berselaput,
 Tigapuluh  tahun yang lalu aku masih berdendang
Di pundaknya yang kokoh
Kini berubah bak kulit yang bertumpuk-tumpuk.
Dan aku mulai sulit membayangkan
Pada detakku yang tersembunyi
Kepergianmu telah membunuhku

2009


51.YANG TERBUANG
Hal terindah adalah gelap dan pekat
 tubuhku menjadi seperti awan hitam
 yang menuai badai, membuat petaka dari carut marut
 seperti ketika aku keluar dari rahim sang mulia:
menangis dengan simbahan darah dan pengaduan nyawa,
dan entahlah ibu yang mana yang melahirkan ku.
aku telah menjadi satu dalam tubuh yang tak ingin rapuh.
Dari pergantian malam dan pelukan hangat bergantian
Aku tak ingin menjadi apa-apa
Aku tak tahu harus menjadi apa.
Meski hidup dalam kubahan yang kotor
Sebagai generasi yang terbuang
Dari kumpulan masyarakat, bahkan peradaban.
Setahuku  Tuhan menjatuhkan aku begitu saja
 Ditempat ini.2009.

52.LORONG
 Waktu yang berjalan
Mempertemukan aku pada sebuah lorong.
Lorong yang gelap tampa titik cahaya.
Lorong yang  menghentakkan tubuhku
Menjadi sedemikian tak berdaya, kecil dan kerdil.
Lorong yang mengajak. nuraniku
Semakin memberontak dan menolak
Melawan kaidah-kaidah yang sudah dibakukan
Lorong yang mengancam semesta
Mempermainkan keyakinan dan keraguan
Terbolak-balik di otakku.
Lorong yang mengantarkan aku
 Pada arti  kedatangan dan kepergian                       
  2004

52. PECUNDANG
Saat kita sama-sama terasing
keraguan terbersit di wajahmu
Terlihat seperti ingin berlalu
Terlepas dari segala yang membebankan  
                 Yang pernah menjadi bagiannya.
                     Tidakkah ini  terlalu dungu?
                     Setelah kita habiskan waktu
                        Untuk memperjuangkan
Mengapa harus menjadi pecundang?
Pada hari-hari yang telah menjadikan kita
Seoarang pembearani.
Mengapa tidak kita lawan saja
Kodrat ini???


                                  

2004                     

Tidak ada komentar

WISATA BATU CAVES ANTARA CULTURE DAN NATURE

IDEAIDEALY.COM- Hi Dears, kali ini mau share info wisata budaya yang ada di Malaysia. Nah kalo kebetulan datang ke Malaysia ja...