Idea-idealy

LANDASAN FILSAFAT ILMU DALAM MANAJEMEN SUMBERDAYA MANUSIA TERHADAP PEMBERDAYAAN MANUSIA.

Share:













                                                                                                                         Oleh : Yuli

Seiring waktu, manusia senantiasa berusaha untuk meningkatkan kualitas dan menggali potensi diri yang ada pada dirinya. Manusia mampu mengembangkan pengetahuannya secara sungguh-sunguh dan terus mencari hal baru yang bisa membantu untuk meningkatakan kepuasan dirinya juga nilai kebermanfaatan buat manusia lainnya.
Manusia adalah makhluk yang kompleks, terdiri dari rohaniah dan jasmaniah, manusia dapat menjadi subjek dan objek buat dirinya, manusia adalah subjek yang bertanya dan sekaligus menjadi objek yang ditanyakan[1].
Untuk itu manusia memikirkan hal-hal baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup, namun lebih dari itu. Manusia mengembangkan kebudayaan; manusia memberi makna kepada kehidupannya; manusia memanusiakan diri dalam kemanusiaannya.
Oleh karena keingintahuannya yang besar untuk mengembangkan diri tersebut, maka lahirlah filsafat ilmu yang bisa menjawab persoalan manusia secara menyeluruh, sistematis dan mendasar.
Berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri: apakah sebenarnya yang kita ketahui tentang ilmu? Apakah ciri-cirinya yang hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan ilmu? Bagaimana kita mengetahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? Kriteria apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran secara ilmiah? Mengapa kita mempelajari ilmu? Apakah kegunaannya sebenarnya? Seseorang yang berfilsafat dapat diumpamakan seseorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Atau seorang yang berdiri di puncak tinggi memandang ke ngarai dan lembah di bawahnya. Dia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya[2].
Adapun karakteristik berfikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Oleh karena itu maka munculah konstelasi pengetahuan lainnya seperti moral, agama, ekonomi, sumberdaya manusia dan lainnya, yang masing-masing rumpun tersebut menjawab permasalahan manusia dari sisi kebutuhannya untuk memenuhi kepuasan dan kesejahteraan umat manusia.
Untuk menjawab permasalahan manusia yang kompleks dalam mencapai tujuan (ontologi) serta bagaimana caranya (epistimologi) dan untuk apa kegunaannya (aksiologi) tersebut dicapai maka diperlukan suatu cara atau metode, maka hadirlah filsafat ilmu manajemen sumber daya manusia, yang diharapkan dapat menjawab semua permasalahan manusia tersebut.
Manajemen sumber daya manusia merupakan upaya mendayagunakan berbagai sumber daya (resource) untuk mencapai tujuan tersebut secara efektif dan efisien, baik dalam aspek produktifitas maupun kepuasan sesuai dengan yang diharapkannya.
1.    Konsep Filsafat
            Pengertian Filsafat
Filsafat dalam Bahasa Yunani terdiri dari dua suku kata yaitu “Philos” dan “Sophia”. “Philos” biasanya diterjemahkan dengan istilah gemar, senang, atau cinta. “Sophia” dapat diartikan kebijaksanaan. Jadi “filsafat” berarti cinta kepada kebijaksanaan. Menjadi “bijaksana” berarti mendalami hakekat sesuatu. Kata “philosopos” diciptakan untuk menekankan suatu pemikiran Yunani seperti Pythagoras (582-496 SM) dan Plato (428-348 SM) yang mengkritik para “sofis” yang berpendapat bahwa mereka tahu jawaban atas semua pertanyaan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa berfilsafat berarti berusaha mengetahui tentang sesuatu dengan sedalam-dalamnya, baik mengenai hakekat adanya sesuatu itu, fungsi, ciri-cirinya, kegunaannya, masalah-masalahnya serta pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah itu. Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran/rasio belaka.
Adapun beberapa ciri berfikir filsafat adalah adalah :
1.    Berfikir secara radikal.
Artinya berfikir sampai ke akar-akarnya. Radikal berasal dari kata Yunani “radix” yang berarti akar. Maksud dari berfikir sampai ke akar-akarnya adalah berfikir sampai pada hakikat, esensi atau sampai pada substansi yang dipikirkan. Manusia yang berfilsafat dengan akalnya berusaha untuk dapat menangkap pengetahuan hakiki, yaitu pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan indrawi.
2.    Berfikir secara universal atau umum.
Berfikir secara umum adalah berfikir tentang hal-hal serta suatu proses yang bersifat umum. Jalan yang dituju oleh seorang filsuf adalah keumuman yang diperoleh dari hal-hal yang bersifat khusus yang ada dalam kenyataan.
3.    Berfikir secara konseptual.
Yaitu berfikir mengenai hasil generalisasi dan abstraksi dari pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses individual. Berfikir secara ke-filsafat-an tidak bersangkutan dengan pemikiran terhadap perbuatan-perbuatan bebas yang dilakukan oleh orang-orang tertentu sebagaimana yang biasa dipelajari oleh seorang psikolog, melainkan bersangkutan dengan pemikiran “apakah kebebasan itu?”
4.    Berfikir secara koheren dan konsisten.
Artinya, berfikir sesuai dengan kaidah-kaidah berfikir dan tidak mengandung kontradiksi atau dapat pula diartikan dengan berfikir secara runtut.
5.    Berfikir secara sistematik.
Dalam mengemukakan jawaban terhadap suatu masalah, para filsuf memakai pendapat-pendapat sebagai wujud dari proses befilsafat. Pendapat-pendapat itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung maksud dan tujuan tertentu.
6.    Berfikir secara komprehensif (menyeluruh).
Berfikir secara filsafat berusaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan.
7.    Berfikir secara bebas.
Bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural ataupun religius. Berfikir dengan bebas itu bukan berarti sembarangan, sesuka hati, atau anarkhi, sebaliknya bahwa berfikir bebas adalah berfikir secara terikat, akan tetapi ikatan itu berasal dari dalam, dari kaidah-kaidah, dari disiplin fikiran itu sendiri. Dengan demikian pikiran dari luar sangat bebas, namun dari dalam sangatlah terikat.
8.    Berfikir atau pemikiran yang bertanggungjawab.
Pertanggungjawaban yang pertama adalah terhadap hati nuraninya sendiri. Seorang filsuf seolah-olah mendapat panggilan untuk membiarkan pikirannya menjelajahi kenyataan. Namun, fase berikutnya adalah bagaimana ia merumuskan pikiran-pikirannya itu agar dapat dikomunikasi-kan pada orang lain serta dipertanggungjawabkan.

Adapun beberapa definisi filsafat berdasar para ahli adalah sebagai berikut:
1.    Harun Nasution menyatakan filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma atau agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan.
2.    Plato (428-348 SM) menyatakan filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada.
3.    Aristoteles (384-322 SM) yang merupakan murid Plato menyatakan bahwa filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda.
4.    Marcus Tullius Cicero (106-43 SM) mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha untuk mencapainya.
5.    Al Farabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibnu Sina menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang mawujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya.
6.    Immanuel Kant (1724-1804) menyatakan bahwa filsafat adalah ilmu pokok danpangkal segala pengetahuan yang mencakup didalamnya 4 persoalan, yaitu: (1) apakah yang dapat kita ketahui (dijawab dengan Metafisika), (2) apakah yangboleh kita kerjakan (dijawab dengan etika), (3) sampai dimanakah pengharapankita (dijawab dengan agama), dan (4) apakah yang dinamakan manusia (dijawab dengan antropologi).

         Objek Filsafat
Adapun objek filsafat terdiri dari:
1.    Objek Material, ialah segala sesuatu yang menjadi masalah filsafat, segala sesuatu yang dimasalahkan oleh atau dalam filsafat. Tiga persoalan pokoknya adalah (1) hakikat tuhan, (2) hakikat alam, dan (3) hakikat manusia.
2.    Objek Formal, ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya sampai ke akarnya) tentang objek materi.

          Cabang-cabang Filsafat.
Adapun cabang-cabang filsafat terdiri dari:
1.    Epistemologi (filsafat pengetahuan).
2.    Etika (fisalfat moral).         
3.    Estetika (filsafat seni).
4.    Metafisika.
5.    Politik (filsafat pemerintahan).
6.    Filsafat agama.
7.    Filsafat ilmu.
8.    Filsafat pendidikan.
9.    Filsafat hukum.
10.  Filsafat sejarah.
11.  Filsafat matematika.

        Motivasi Timbulnya Filsafat.
1.    Dongeng, tahayul (mitos). Ada yang kritis ingin tahu kebenaran mitos itu (zaman awal Yunani).
2.    Keindahan Makroskosmos, ingin tahu rahasia alam. Ketakjuban sikap lahir dalam bentuk bertanya kebenaran/pertanyaan menjadi serius dan penyelidikan yang (bukan sembarangan pertanyaan sistematis filsuf).
3.    Penyebab timbulnya pertanyaan adalahkesangsian (keraguan). Ketika terjadi kesangsian akan sesuatu maka pikiran akan bekerja dan pikiran yang gelisah menjadi sebuah problema yang harus dipecahkan.

2.    Konsep Ilmu
       Pengertian Ilmu
Ilmu lahir karena manusia diberkahi Tuhan suatu sifat ingin tahu. Rasa keingin tahuan tersebut terhadap permasalahan di sekililingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Ilmu menurut Nazir (2003: 9) adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis, pengetahan dari mana dapat disimpulkan dalil dalil tertentu menurut kaidah-kaidah yang umum.
Ilmu berasal dari bahasa Arab: ‘alima, ya’lamu, ‘ilman, dan wazan fa’ila, yaf’alu yang artinya mengerti, memahami dengan benar. Dalam bahasa Inggris berarti science, bahasa Latin berarti scintia (pengetahuan) dan scire (mengetahui). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ilmu artinya pengetahuan suatu bidang secara sistematis berdasarkan metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang itu.
Adapun definisi ilmu menurut beberapa ahli  adalah:
1.    Mohammad Hatta: ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam masalah yang sama tabiatnya, kedudukannya yang tampak dari luar dan bangunannya dari dalam.
2.    Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag: ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik, yang keempatnya serentak.
3.    Ashley Montagu: ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari  pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang diuji.
4.    Karl Pearson: ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sederhana.
5.    Alfanasyef: ilmu adalah pengetahuan manusia tentang alam, masyarakat dan pikiran.
6.    Harsojo berkata ilmu adalah:
a.  Akumulasi pengtahuan yangsistematis.
b.  Pendekatan atau metode pendekatan seluruh duniaempiris.
c.  Cara menganalisis yang mengizinkan ahlinya untuk menyatakan: ‘Jika….,maka….”

 Ciri-Ciri Ilmu
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi ilmu merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berpikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.
Adapun ciri-ciri utama ilmu menurut terminologi:
1.    Ilmu adalah sebagian pengetahuan yang memiliki sifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan.
2.    Ilmu bersifat koheren sistematik, yang maksudnya menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke objek yang sama dan saling berkaitan secara logis.
3.    Ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan masing-masing penalaran perorangan, sebab ilmu dapat memuat di dalamnya dirinya sendiri hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang belum sepenuhnya dimantapkan.
4.    Yang sering kali berkaitan dengan konsep ilmu adalah ide bahwa metode-metode yang berhasil dan hasil-hasil yang terbukti pada dasarnya harus terbuka kepada semua pencari ilmu.
5.    Ilmu menuntut metodologis dan berdasarkan pada pengalaman.
6.    Kesatuan setiap ilmu bersumber di dalam kesatuan objeknya.

Syarat-syarat Ilmu
1.    Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada atau mungkin ada, karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
2.    Metodis. Upaya-upaya yang harus dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
3.    Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu, dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya.
4.    Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Pada waktu belakangan ini, ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam, mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.

Landasan ilmu harus mampu menjawab persoalan-persoalan berikut:
1.    Landasan Ontologis, seperti: objek apa yang ditelaah? Bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut?
2.    Landasan Epistemologis: bagaimana prosedur dan mekanismenya?
3.    Landasan Aksiologis, seperti: untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu digunakan?

  Perbedaan antara Ilmu dan Filsafat
Filsafat dan Ilmu memiliki persamaan dan perbedaan. Adapun persamaan filsafat dan ilmu antara lain:
1.    Mencari rumusan yang sebaik-baiknya, selengkap-lengkapnya sampai keakar-akarnya.
2.    Memberikan pengertian mengenai hubungan yang ada antara kejadian dan menunjukkan sebab-sebabnya.
3.    Memberikan sintesis, yaitu pandangan yang bergandengan.
4.    Mempunyai metode dan sistem.
5.    Memberikan penjelasan tentang kenyataan yang timbul dari hasrat manusia terhadap pengetahuan yang mendasar.

Sedangkan perbedaan filsafat dan ilmu, diterangkan dalam tabel di bawah ini:
Tabel 1
Perbedaan Filsafat dan Ilmu
Filsafat
Ilmu
1.     Objek material bersifat universal.
1.    Objek material bersifat khusus dan empiris.
2.     Objek formal: non-pragmatis.
2.    Objek formal: pragmatis, spesifik, intensif, teknis.
3.     Menonjolkan daya spekulasi, kritis dan pengawasan.
3.    Riset melalui trial and error.
4.     Pertanyaan lebih jauh dan mendalam berdasarkan realitas.
4.    Diskursif, logis, dari tidak tahu menjadi tahu.
5.     Penjelasan terakhir, mutlak, mendalam (primary causa).
5.    Penyebab tidak terlalu mendalam. Lebih dekat dengan (secondary causa).

3.    Konsep Filsafat Ilmu
       Pengertian Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu merupakan  cabang dari ilmu filsafat yang berisikan tentang pandangan- pandangan yang dikaji secara ilmiah. Menurut The Liang Gie dalam Annisa Kusumaningrum (2015) Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.
Pembahasan filsafat ilmu sangat penting karena akan mendorong manusia untuk lebih kreatif dan inovatif. Filsafat ilmu memberikan spirit bagi perkembangan dan kemajuan ilmu dan sekaligus nilai-nilai moral yang terkandung pada setiap ilmu baik pada tataran ontologis, epistemologis maupun aksiologi.
Sedangkan Filsafat ilmu menurut Jujun Suriasumantri (2000:33) adalah merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah).
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat ilmu adalah sebuah penilaian terhadap segala pandangan yang berdasarkan pada proses pemikiran ilmiah. Pokok permasalahan yang dikaji filsafat mencakup tiga segi, yakni :
1.    Logika (apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah).
2.    Etika (mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk).
3.    Estetika (apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek)

   Perkembangan Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu sebagai bagian integral dari filsafat secara keseluruhan perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan filsafat itu sendiri secara keseluruhan.  Menurut Lincoln Cuba dalam Gusti Utama (2013: 13)  bahwa kita mengenal tiga babakan perkembangan paradigma dalam filsafat ilmu di Barat, yaitu era pra-positivisme, era positivisme dan era pasca-modernisme.
 Dari sejarah panjang filsafat, khususnya filsafat ilmu, penulis membagi tahapan perkembangannya ke dalam empat fase sebagai berikut:
1.    Filsafat Ilmu zaman kuno
Filsafat yang dimulai sejak munculnya filsafat sampai dengan munculnya Renaisance. Filsafat yang dipandang sebagai induk ilmu pengetahuan telah dikenal manusia pada masa Yunani Kuno. Di Miletos, suatu tempat perantauan Yunani yang menjadi tempat asal mula munculnya filsafat, ditandai dengan munculnya pemikir pemikir besar seperti Thales, Anaximandros dan Anaximenes.
2.    Filsafat Ilmu sejak munculnya Rennaisance sampai memasuki era positivisme.
Memasuki masa Rennaisance, otoritas Aritoteles tersisihkan oleh metode dan pandangan baru terhadap alam yang biasa disebut Copernican Revolution yang dipelopori oleh sekelompok sanitis antara lain Copernicus (1473-1543), Galileo Galilei (1564-1542) dan Issac Newton (1642-1727) yang mengadakan pengamatan ilmiah serta metode-metode eksperimen atas dasar yang kukuh.


3.    Filsafat Ilmu zaman Modern (Era Posititivisme).
Sejak era Positivisme sampai akhir abad ke sembilan belas. Memasuki abad XIX, perkembangan Filsafat Ilmu memasuki Era Positivisme. Positivisme adalah aliran filsafat yang ditandai dengan evaluasi yang sangat terhadap ilmu dan metode ilmiah. Aliran filsafat ini berawal pada abad XIX. Pada abad XX tokoh-tokoh positivisme membentuk kelompok yang terkenal dengan Lingkaran Wina, di antaranya Gustav Bergman, Rudolf Carnap, Philip Frank Hans Hahn, Otto Neurath dan Moritz Schlick.
4.    Filsafat Ilmu era Kontemporer.
Filsafat era konteporer yang merupakan perkembangan mutakhir filsafat ilmu sejak awal abad keduapuluh sampai sekarang. Perkembangan filsafat ilmu di zaman ini ditandai dengan munculnya filosof-filosof yang memberikan warna baru terhadap perkembangan filsafat ilmu sampai sekarang. Muncul Karl Raymund Popper (1902-1959) yang kehadirannya menadai babak baru dalam filsafat era kontemporer.

   Hakikat Filsafat Ilmu
Filsafat Ilmu merupakan cabang ilmu filsafat yang hendak mengkaji ilmu dari sisi filsafat untuk memberi jawaban terhadap sejumlah pertanyaan yang mencakup apa itu ilmu (Ontologi), bagaimana ilmu itu diperoleh (dijawab dengan Epistimologi) dan untuk apa ilmu itu dilahirkan (Aksiologi).
Filsafat ilmu merupakan telaah secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakekat ilmu seperti[3]:
1.    Objek mana yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki objek? Apa hubungan objek dengan tangkapan manusia (berfikir, merasa, mengindera) yang membuahkan pengetahuan.
2.    Bagaimana prosesyang memungkinkan ditimba pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapat pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apa kriterianya? Bagaimana cara dan teknik sarana yang membantu kita mendapat pengetahuan yang berupa ilmu?
3.    Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasional metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?

Bahwa terdapat  hubungan yang erat  antara ontologi, epistemologi dan aksiologi dalam melandasi kebenaaran  filsafat  ilmu, dapat dicermati dari Suriasumantri dalam Atmadja, Nengah Bawa dan Atmadja, Anantawikrama Tungga dalam Deny Bagus (2016), bahwa setiap jenis ilmu pengetahuan memiliki tiga ciri tersebut dan ketiganya saling berkaitan, sehingga dengan cara ini dimungkinkan untuk mendapatkan pemahaman yang utuh tentang hakikat ilmu pengetahuan secara, tidak saja filosofis dan akademik, tetapi juga praktisnya.
Hakikat Filsafat terdiri atas 3 (tiga) cabang besar, yaitu:
1.    Ontologi (Teori Hakikat).
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat  konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis yang terkenal diantaranya Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum mampu membedakan antara penampa-kan dengan kenyataan.
Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
a.     Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak.
b.    Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.
Ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu on / ontos = being atau ada, dan logos = logic atau ilmu. Jadi, ontologi bisa diartikan: The theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan), atau Ilmu tentang yang ada.
Sedangkan Otologi  menurut istilah Bakhtiar dalam Annisa dkk (2012): adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality yang berbentuk jasmani/kongkret maupun rohani/abstrak.
Pembahasan pengetahuan objek itu dipikirkan secara mendalam sampai pada hakikatnya, aliran-alirannya terdiri dari:
a.     Materialisme/Naturalisme: hakikat benda adalah materi itu sendiri, rohani, jiwa, spirit muncul dari benda. Naturalisme tidak mengakui roh, jiwa, tentu saja termasuk tidak mengakui adanya Tuhan.
b.    Idealisme: hakikat benda adalah rohani, spirit. Alasan: nilai rohnya lebih tinggi dari badan, manusia tidak dapat memahami dirinya daripada dunia dirinya.
c.     Dualisme: hakikat benda itu dua, materi dan imateri. Materi bukan muncul dari roh dan roh bukan muncul dari benda.
d.    Skeptisisme adalah paham yang memandang sesuatu selalu tidak pasti (meragukan, mencurigakan).
2.    Epistemologi (Teori Pengetahuan).
Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge).          
Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan.
Pengertian lain, menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan? Apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S. Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian,1965, dalam Jujun S.Suriasumantri, 2005).
Selanjutnya, pengertian epistemologi yang lebih jelas diungkapkan Dagobert D. Runes. Dia menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber, struktur, metode-metode dan validitas pengetahuan. Sementara itu, Azyumardi Azra menambahkan bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan”.
Adapun aliran-aliran epistemologi adalah sebagai berikut :
a.     Empirisme (John Locke, 1632-1704).
b.    Rasionalisme (Rene Decartes, 1596-1650).
c.     Positivisme (August Compte, 1798-1857).
d.    Intusionisme (Hendri Bergson, 1859-1941).
Hakikat Epsitemologi pada umumnya  berusaha memberi definisi ilmu pengetahuan, membedakan cabang-cabangnya yang pokok, lalu setelah itu mengidentifikasikan sumber-sumbernya dan menetapkan batas-batasnya. “Apa yang bisa kita ketahui dan bagaimana kita mengetahui” adalah masalah-masalah sentral epistemologi.

3.    Aksiologi (teori nilai guna pengetahuan)
Menurut Kamus Filsafat, Aksiologi Berasal dari bahasa Yunani Axios (layak, pantas) dan Logos (Ilmu). Jadi aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari nilai. Jujun S. Suriasumantri mengartikan aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Aksiologi berkaitan dengan kegunaan dari suatu ilmu, hakekat ilmu sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang didapat dan berguna untuk kita dalam menjelaskan, meramalkan dan menganalisa gejala-gejala alam. (Cece Rakhmat dalam Anisa dkk. : 2012). Dari pendapat di atas dapat dikatakanbahwa Aksiologi merupakan ilmu yangmempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan.
Penilaian Aksiologi menurut Bramel dalam Anisa dkk, (2012) membagi aksiologi dalam tiga bagian yaitu :
a.     Moral conduct, yaitu tindakan moral. Bidang ini melahirkan disiplin khusus yakni etika. Kajian etika lebih fokus pada prilaku, norma dan adatistiadat manusia. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahui dan mampumempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan.
b.    Aesthetic expression, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan. Estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena disekelilingnya.
c.     Sosio-political life, yaitu kehidupan social politik yang akan melahirkan filsafat sosiopolitik.
Adapun aliran-aliran aksiologi terdiridari:
a.     Hedonisme: sesuatu dianggap baik jika mengandung kenikmatan bagi manusia (hedon).
b.    Vitalisme: baik buruknya sesuatu ditentukan oleh ada tidaknya kekuatan hidup yang dikandung objek-objek yang dinilai. Misalnya manusia yang kuat, ulet, cerdas adalah manusia yang baik.
c.     Utilitarisme: yang baik adalah yang berguna.
Jumlah kenikmatan - Jumlah penderitaan = Nilai perbuatan.
d.    Pragmatisme: yang baik adalah yang berguna secara praktis dalam kehidupan, ukuran kebenaran suatu teori ialah kegunaan praktis teoriitu, bukan dilihat secara teoritis.

4.    Konsep Manajemen
        Pengertian Manajemen
Seperti diketahui ilmu manajemen berkembang terus hingga saat ini. Ilmu manajemen memberikan pemahaman kepada kita tentang pendekatan ataupun tata cara penting dalam rneneliti, menganalisis dan memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan manajerial.
Manajemen menurut Malayu Hasibuan (2012)[4] adalah ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan smber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai satu tujuan tertentu.
Dari pengertian manajemen di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah suatu proses bekerja untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya secara efektif dan efisien dengan menggunakan orang-orang melalui fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian dengan memanfaatkan sumber daya-sumber daya yang tersedia.

 Unsur-unsur dan Dasar-dasar Manajemen :
Adapun unsur-unsur Manajemen dikenal dengan 6M, yaitu:
1.    Man (faktor manusia adalah yang paling menentukan).
2.    Money (uang untuk mencapai tujuan).
3.    Mathods (cara kerja atau sistem kerja yang digunakan untuk mencapai tujuan).
4.    Materials (bahan-bahan yang diperlukan).
5.    Machines (mesin-mesin yang diperlukan untuk mencapai tujuan).
6.    Market (pasar atau pemasaran sebagai tempat untuk memperjualbelikan hasil produksi).

Sedangkan dasar-dasar manajemen terdiri dari :
1.    Adanya kerjasama di antara sekelompok orang dalam ikatan formal.
2.    Adanya tujuan bersama serta kepentingan yang sama yang akan dicapai
3.    Adanya pembagian kerja, tugas dan tanggung jawab yang teratur.
4.    Adanya hubungan formal dan ikatan tata tertib yang baik.
5.    Adaya sekelompok orang dan pekerjaan yang akan dikerjakan.


 Bidang-bidang Manajemen
Adapun bidang-bidang manajemen meliputi: Manajemen Sumber Daya Manusia, Manjemen Pembelanjaan, Manajemen Poduksi, Manajemen Biaya, Manajemen Pemasaran, Manajemen Perkantoran, Manajemen Resiko dan Manjemen Berdasarkan Sasaran.
Berdasarkan uraian diatas disimpulkan bahwa pada dasarnya manajemen merupakan kerjasama dengan orang-orang untuk menentukan, menginterpretasikan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen.
            
5.    Konsep Manajemen Sumber Daya Manusia.
       Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
Ada beberapa pengertian atau definisi mengenai Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) dari para ahli. Di antaranya adalah:
1.    Drs. Malayu S.P. Hasibuan: MSDM adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.
2.    Edwin B. Flippo: Manajemen personalia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian dari pengadaan, pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemberhentian karyawan, dengan maksud terwujudnya tujuan perusahaan, individu, karyawan, dan masyarakat.
3.    Dale Yoder: Manajemen personalia adalah penyedia kepemimpinan dan pengarahan para karyawan dalam pekerjaan atau hubungan kerja mereka.
4.    Andrew F. Sikula: Administrasi kepegawaian adalah penempatan orang-orang ke dalam suatu perusahaan.
5.    John B. Miner dan Mary Green Miner: Manajemen personalia didefinisikan sebagai suatu proses pengembangan,menerapkan, dan menilai kebijakan-kebijakan, prosedur-prosedur, metode-metode, dan program-program yang berhubungan dengan individu karyawan dalam organisasi.
6.    Michel J. Jucius: Manajemen personalia adalah lapangan manajemen yang pertalian dengan perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian bermacam-macam fungsi pengadaan, pengembangan, pemeliharaan, dan pemanfaatan tenaga kerja sedemikian rupa sehingga:
a.     Tujuan untuk apa perkumpulan didirikan dan dicapai secara efektif dan efisien.
b.    Tujuan semua pegawai dilayani sampai tingkat yang optimal.
c.     Tujuan masyarakat diperhatikan dan dilayani dengan baik.

Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, terdiri dari 6M. Unsur men (manusia) ini berkembang menjadi suatu bidang ilmu manajemen yang disebut Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) yang merupakan terjemahan dari man power management.
MSDM lebih memfokuskan pembahasan mengenai pengaturan peranan manusia dalam mewujudkan tujuan yang optimal. Pengaturan itu meliputi masalah perencanaan (human resources planning), pengorganisasian, pengarahan, pengendalian, pengadaan, pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, kedisiplinan, dan pemberhentian tenaga kerja untuk membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.

Komponen-komponen Manajemen Sumber Daya Manusia
Ada beberapa komponen Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), yaitu:
1.    Pengusaha: setiap orang yang menginvestasikan modalnya untuk memperoleh pendapatan.
2.    Karyawan: merupakan kekayaan utama suatu perusahaan, karena tanpa keikutsertaan mereka, aktivitas perusahaan tidak akan terjadi. Karyawan adalah penjual jasa (melalui pikiran dan tenaganya) dan mendapatkan kompensasi yang besarnya telah ditetapkan terlebih dahulu. Posisi karyawan biasa dibedakan menjadi karyawan operasional dan karyawan manajerial (pimpinan).
3.    Pemimpin atau Manajer: adalah seseorang yang mempergunakan wewenang dan kepemimpinannya untuk mengarahkan orang lain serta bertanggung jawab atas pekerjaan orang tersebut dalam mencapai suatu tujuan. Kepemimpinan adalah gaya seorang pemimpin mempengaruhi bawahannya agar mau bekerja sama dan bekerja secara efektif dan efisien sesuai dengan perintahnya. Asas-asas kepemimpinan antara lain bersikap tegas dan rasional, bertindak konsisten dan berlaku adil serta jujur.

2.5.3.   Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia berperan penting dalam manajemen. MSDM mengatur dan menetapkan program kepegawaian yang mencakup masalah-masalah sebagai berikut:
1.    Menetapkan jumlah, kualitas, dan penempatan tenaga kerja yang efektif sesuai dengan kebutuhan perusahaan berdasarkan job description, job specification, job requirement, dan job evaluation.
2.    Menetapkan penarikan, seleksi, dan penempatan karyawan berdasarkan asas the right man in the right place and the right job.
3.    Menetapkan program kesejahteraan, pengembangan, promosi, dan pemberhentian.
4.    Meramalkan penawaran dan permintaan sumber daya manusia pada masa yang akan datang.
5.    Memperkirakan keadaan ekonomi pada umumnya dan perkembangan perusahaan pada khususnya.
6.    Memonitor dengan cermat undang-undang perburuhan dan kebijaksanaan pemberian balas jasa perusahaan-perusahaan sejenis.
7.    Memonitor kemajuan teknik dan perkembangan serikat buruh.
8.    Melaksanakan pendidikan, pelatihan, dan penilaian prestasi karyawan.
9.    Mengatur mutasi karyawan, baik vertikal maupun horizontal.
10.  Mengatur pensiun, pemberhentian, dan pesangonnya.

Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia ini diakui sangat menentukan bagi terwujudnya tujuan, tetapi untuk memimpin unsur manusia ini sangat sulit dan rumit. Tenaga kerja manusia selain mampu, cakap, dan terampil, juga tidak kalah pentingnya untuk memiliki kemauan dan kesungguhan untuk bekerja secara efektif dan efisien. Kemampuan dan kecakapan menjadi kurang berarti bila tidak diikuti dengan moral kerja dan kedisiplinan karyawan dalam bekerja mewujudkan tujuan.

 Perkembangan Manajemen Sumber Daya Manusia
Perkembangan Manajemen Sumber Daya Manusia didorong oleh kemajuan zaman. Perkembangan MSDM dipengaruhi oleh masalah-masalah ekonomi politik, dan sosial.

Masalah-masalah ekonomi meliputi:
1.    Semakin terbatasnya faktor-faktor produksi, menuntut agar sumber daya manusia dapat bekerja lebih efektif dan efisien.
2.    Semakin disadari bahwa SDM paling berperan dalam mewujudkan tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.
3.    Karyawan akan meningkatkan moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi kerjanya jika kepuasan diperoleh dari pekerjaannya.
4.    Terjadinya persaingan yang tajam untuk mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas di antara perusahaan.
5.    Para karyawan semakin menuntut keamanan ekonominya pada masa depan.

Masalah-masalah politis meliputi hal-hal berikut:
1.    Hak asasi manusia semakin mendapat perhatian dan kerja paksa jelas tidak diperkenankan lagi.
2.    Organisasi buruh semakin banyak dan semakin kuat mengharuskan perhatian yang lebih baik terhadap SDM.
3.    Campur tangan pemerintah dalam mengatur perburuhan semakin banyak.
4.    Adanya persamaan hak dan keadilan dalam memperoleh kesempatan kerja.
5.    Emansipasi wanita yang menuntut kesamaan hak dalam memperoleh pekerjaan.

Sedangkan masalah-masalah sosial di antaranya adalah:
1.    Timbulnya pergeseran nilai di dalam masyarakat akibat pendidikan dan kemajuan teknologi.
2.    Berkurangnya kebanggaan terhadap hasil pekerjaan akibat adanya spesialisasi pekerjaan yang mendetail.
3.    Semakin banyak pekerja wanita yang karena kodratnya perlu mendapatkan perlakuan khusus sesuai perundang-undangan.
4.    Kebutuhan manusia yang semakin beraneka ragam, material dan non-material yang harus dipenuhi oleh perusahaan.

 Fungsi- Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia terbagi ke dalam 11 (sebelas) bagian digambarkan dalam bagan di bawah ini:

Bagan 2
Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Dari bagan di atas, dijelaskan bahwa fungsi manajemen meliputi:
1.    Perencanaan: merencanakan tenaga kerja secara efektif dan efisien agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan dalam terwujudnya tujuan. Manfaat perencanaan adalah:
a.     Sebagai standar pengasaan dan pengawasan.
b.    Pemuilihan sebagai alterbatif terbaik.
c.     Penyusunan skala proritas, baik sasaran maupun kegiatan.
d.    Membantu manajer menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.
e.     Alat yang memudahkan dalam berkoordinasi dengan pihak terkait.
f.     Alat yang meminimalkan pekerjaan yang tidak pasti. 

2.    Pengorganisasian: kegiatan untuk mengorganisasikan semua karyawan dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang, integrasi, dan koordinasi dalam bagan organisasi. Manfaat Pengorganisasian adalah:
a.     Mengatasi terbatasnya kemampuan, kemauan, dan sumber daya yang dimiliki.
b.    Untuk mencapai tujuan yang lebih efektif dan efesien.
c.     Wadah memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara bersama-sama.
d.    Wadah mengembangkan potensi dan spesialisasi yang dimiliki seseorang.
e.     Wadah mendapatkan jabatan dan pembagian kerja.

3.    Pengarahan: kegiatan mengendalikan semua karyawan agar mau bekerja sama dan bekerja efektif dan efisien.
4.    Pengendalian: kegiatan mengendalikan semua karyawan agar menaati peraturan-peraturan perusahaan dan bekerja sesuai rencana, meliputi kehadiran, kedisiplinan, perilaku, kerja sama, pelaksanaan pekerjaan, dan menjaga situasi lingkungan.
5.    Pengadaan: proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi, dan induksi untuk mendapatkan karyawan yang sesuai kebutuhan perusahaan.
6.    Pengembangan: proses peningkatan keterampilan teknis, teoritis, konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan.
7.    Kompensasi: pemberian balas jasa langsung dan tidak langsung uang atau barang sebagai imbalan jasa.
8.    Pengintegrasian: kegiatan untuk mempersatukan kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan.
9.    Pemeliharaan: kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan kondisi fisik, mental, dan loyalitas karyawan agar tetap mau bekerja sampai pensiun.
10.  Kedisiplinan: keinginan dan kesadaran untuk mematuhi peraturan perusahaan dan norma-norma sosial.
11.  Pemberhentian: putusnya hubungan kerja seseorang dari perusahaan disebabkan oleh keinginan karyawan, perusahaan, atau kontrak berakhir yang diatur dalam UU No. 12 tahun 1964.

6.    Konsep Pemberdayaan
Pemberdayaan menurut Suzane Kindevatter dalam Djudju Sudjana (2000:77) adalah setiap upaya pendidikan yang bertujuan membangkitkan kesadaran, pengertian, dan kepekaan peserta terhadap perkembangan sosial, ekonomi, dan politik sehingga pada gilirannya peserta memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan meningkatkan status sosial, ekonomi dan politiknya dalam masyarakat.
Pemberdayaan menurut Simon (Harry Hikmat: 2004:10) mengatakan bahwa: Pemberdayaan adalah suatu aktivitas refleksif, suatu proses yang mampu diinisiasikan dan dipertahankan hanya oleh agen atau subjek yang mencari kekuatan atau penentuan diri sendiri (self-determination). Sementara proses lainnya hanya dengan memberikan iklim, hubungan, sumber-sumber dan alat-alat prosedural yang melaluinya, masyarakat dapat meningkatkan kehidupannya. Pemberdayaan merupakan sistem yang berinteraksi dengan lingkungan sosial dan fisik.
Berdasarkan pendapat tersebut, pemberdayaan bukan merupakan upaya pemaksaan kehendak, proses yang dipaksakan, kegiatan untuk pramakarsa di luar, keterlibatan dalam kegiatan tertentu saja, dan makna-makna lain yang tidak sesuai dengan pendelegasian kekuasaan sesuai potensi yang dimiliki masyarakat. Tetapi pemberdayaan juga adalah sebuah interaksi yang melibatkan lingkungan sosial masyarakat. Pemberdayaan adalah upaya untuk memandirikan masyarakat lewat perwujudan potensi kemampuan yang mereka miliki yang berguna untuk menunjang kehidupan pribadinya juga sosialnya.
Pemberdayaan pada dasarnya adalah bagaimana mewujudkan masyarakat dapat berdaya dan jika ditinjau dari segi ekonomi yang dikatakan adil dan beradab semakin efektif adalah masyarakat mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dan mengembangkan kekuatan yang ada pada dirinya.
Memberdayakan rakyat mengandung makna mengembangkan, mendirikan, menswadayakan posisi tawar-menawar masyarakat lapisan bawah terhadap kekuatan-kekuatan penekanan di segala bidang dan sektor, juga mengandung arti melindungi dan membela dengan berpihak pada yang lemah, untuk mencegah terjadi persimpangan yang tidak seimbang dari eksploitasi atas yang kuat.
            
 Hubungan Filsafat Ilmu dengan Manajemen Sumber Daya Manusia
Berdasarkan paparan di atas, diketahui bahwa filsafat ilmu merupakan cabang ilmu yang sangat penting bagi keberlangsungan umat manusia di muka bumi ini. Filsafat ilmu memberikan kontribusi yang besar terhadap maju mundurnya ilmu pengetahuan, begitupun manajemen sebagai salah satu rumpun ilmu tidak bisa dipisahkan satu sama lain dengan filsafat ilmu. Maka peranan filsafat ilmu terhadap manajemen SDM bisa dilihat dalam 3 (tiga) landasan yang masing-masing memiliki hubungan yang erat dan berkaitan untuk memajukan kuliats hidup dan peradaban manusia.

 Landasan Ontologi Manajemen Sumber Daya Manusia
Landasan Ontologi dari praktek manajemen adalah hakekat dari praktek manajemen. Hakekat itu merupakan “ada”-nya dari manajemen. Inilah esensi dari praktek manajemen. Tanpa hakekat ini, praktek manajemen menjadi tidak bermakna. Ontologi dari Manajemen SDM bisa direlevansikan sebagai jaringan komunikasi intensif antar individu yang memiliki perbedaan keterampilan dan ilmu, namun bekerja untuk mewujudkan tujuan yang sama. Jadi, ontologi dari praktek manajemen adalah sebagai jaringan komunikasi yang saling bertautan satu sama lain. Jaringan komunikasi itu juga mengandaikan adanya tanggung jawab masing-masing individu untuk berkomitmen pada tugas dan tujuan yang ada.
Tujuan itu haruslah menjadi bagian dari identitas dan cita-cita bersama. Setiap organisasi/perusahaan haruslah menentukan tujuan serta arah yang hendak dicapai dalam organisasi tersebut dan harus bisa dikomunikasikan terhadap seluruh elemen yang ikut berkontribusi terhadap keberlangsungan hidup organisasi tersebut.
Adapun aspek realitas yang dijangkau teori dan manajemen melalui pengalaman panca indra ialah dunia pengalaman manusia secara empiris baik yang berupa tingkat kualitas maupun kuantitas hasil yang dicapai.
Objek materi ilmu manjemen ialah sisi manajemen yang mengatur seluruh kegiatan manajemen meliputi, Perencanaan, Pengorganisasian, Pengerahan (motivasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, komonikasi, koordinasi, dan negosiasi serta pengembangan organisasi) dan Pengendalian (meliputi pemantauan, penilaian, dan pelaporan).
Secara bertahap, landasan ontologi manajemen diterapkan dalam Manajemen SDM dikembangkan dalam beberapa strategi perusahaan untuk mendapatkan tujuan di antaranya:
1.    Perumusan Visi dan Misi, Peluang dan Tantangan, Kekuatan dan Kelemahan, Sararan Jangka Panjang, Strategi Alternatif, Pemilihan strategi yang dipakai untuk merumuskan tujuan yang hendak dicapai oleh perusahaan tersebut.
2.    Implementasi, yang meliputi Sasaran Tahunan, Kebijakan, Motivasi Karyawan dan  Alokasi Sumber Daya.
3.    Evaluasi, meliputi Peninjauan Internal dan Eksternal, Mengukur Kinerja, dan Tindakan Perbaikan.
Dalam landasan ontologi manajemen maka harus bisa menjawab semua hal yang menyangkut hakikat dasar dari sebuah organisasi itu didirikan, di antaranya:
1.    Perusahaan haruslah mengetahui bidang dan objek apa perusahaan tersebut bergerak, apakah di bidang jasa, keuangan atau lainnya.
2.    Apakah wujud yang hakiki dari objek perusahaan tersebut.
3.    Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan.
Maka secara keseluruhan landasan ontologi manajemen merupakan pedoman untuk setiap organisasi dalam bergerak menggapai tujuan bersama.

Landasan Epistemologi Manajemen Sumber Daya Manusia
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti teori. Jadi, dengan istilah itu yang dimaksud adalah penyelidikan asal mula pengetahuan atau strukturnya, metodenya, dan validitasnya.
Manajemen dapat pula didefinisikan sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) mencapai tujuan ekonomi secara efektif dan efisien. Dalam perkembangannya epistemologi menampakkan jarak yang asasi antara rasionalisme dan empirisme, walaupun sebenarnya terdapat kecenderungan beriringan.
 Landasan epistemologi manajemen SDM tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan dengan berdasarkan:
1.    Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun.
2.    Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka tersebut dan melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud dengan menguji kebenaran pernyataan secara faktual. Misalnya pertanyaan-pertanyaan:
a.     Bagaiman proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu ?
b.    Bagaimana prosedurnya ?
c.     Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ?
d.    Apa yang disebut kebenaran itu sendiri ?
e.     Apakah kriterianya ?
f.     Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu ?
Untuk itulah maka landasan epistemologi manajemen haruslah bisa menjawab beberapa pertanyaan di atas dengan mencari formula atau metode yang tepat bagaimana sebuah organisasi dapat beroprasi dengan tujuan yang telah ditentukan.

Secara umum, landasan epistemologi manajemen sumber daya manusia bisa diaplikasi dalam beberapa pendekatan di bawah ini :
a.     Manajemen SDM sebaiknya melakukan pendekatan sistem sosial. Pendekatan sisitem sosial ini memandang bahwa organisasi/perusahaan adalah suatu sistem yang kompleks yang beroperasi dalam lingkungan yang kompleks. Manajer mengakui dan menyadari bahwa tujuan organisasi/perusahaan baru akan tercapai jika terbina kerja sama yang hamonis antara sesama karyawan, bawahan dengan atasan, serta terjadi interaksi yang baik di antara semua karyawan. Pemikiran ini didasarkan pada adanya saling ketergantungan, interaksi, dan keterkaitan di antara sesama karyawan. Mungkin saja pendekatan mekanis dipakai karena teknologi diperlukan untuk memajukan perusahaan namun tidak semua diadaptasi secara keseluruhan agar tidak menggantikan peran manusia sebagai subjek yang memiliki krativitas dan keberdayaan.

b.    Perusahaan haruslah menjalankan fungsi-fungsi manajemen di bawah ini:
1)    Perencanaan: Menentukan sasaran dan standar-standar, membuat aturan dan prosedur, menyusun rencana-rencana dan melakukan peramalan.
2)    Pengorganisasian: Memberikan tugas spesifik kepada setiap bawahan, membuat divisi-divisi, mendelegasikan wewenang kepada bawahan, meembuat jalur wewenang dan komunikasi, dan mengoordinasikan pekerjaan bawahan.
3)    Penyusunan staf: Menentukan tipe orang yang harus dipekerjakan, merekrut calon karyawan, memilih karyawan, menetapkan standar prestasi, memberikan kompensasi kepeda karyawan, mengevaluasi prestasi, memberikan konseling kepada karyawan, melatih dan mengembangkan karyawan.
4)    Kepemimpinan: Mendorong orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan, mempertahankan semangat kerja, dan memotivasi bawahan.
5)    Pengendalian: Menetapkan standar, seperti kuota penjualan, standar penjualan, standar kualitas, atau tingkat produksi, memeriksa untuk melihat bagaimana prestasi yang dicapai dibandingkan dengan standar-standar ini, melakukan koreksi jika dibutuhkan.

c.     Perusahaan haruslah mengadakan pengembangan terhadap karyawan. Kegiatan yang bisa dilakukan seperti di bawah ini:
1) Orientasi atau Sosialisasi. Kegiatan ini merupakan pengenalan karyawan baru terhadap kebijakan dan program perusahaan/ oraganisasi, hal ini diharapkan terciptanya rasa memiliki dengan iklim kerja yang kondusif.
2)    Pelatihan dan Pengembangan. Pelatihan dirancang untuk meningkatkan keterampilan dalam pekerjaan.
3)    Perencanaan dan Pengembangan Karir. Karir karyawan dan kebutuhan perusahaan adalah hal yang tak terpisahkan, oleh karena itu perusahaan harus membantu karyawannya dalam merencanakan karir mereka agar kebutuhan kedua belah pihak dapat terpenuhi.

d.    Manajemen SDM haruslah menjalankan perannya sebagai berikut:
1) Melakukan persiapan dan seleksi tenaga kerja (Preparation and selection). Hal-hal yang harus dilakukan adalah persiapan, rekruitmen, dan seleksi tenaga kerja.
2)    Pengembangan dan evaluasi karyawan (Development and evaluation).
3)    Memberikan kompensasi dan proteksi pada pegawai (Compensation and protection).

Landasan epistomologi manajemen haruslah sanggup melahirkan cara dan metode terbaik dan diiringi dengan support teknologi yang memadai akan menjadikan karyawan tidak hanya sebagai pekerja tetapi pelaku sekaligus penggagas dalam pencapaian tujuan. Apabila karyawan sebagai aset sumberdaya manusia dibina dan dipenuhi tuntukan keebutuhannya baik yang menyangkut kesejahteraan atau pengetahuan sebagai bekal diri masing-masing tentu akan menghasilkan performa yang berkualitas.

 Landasan Aksiologis Manajemen Sumber Daya Manusia
Berasal dari bahasa Yunani axios yang berarti `memiliki harga, `mempunyai nilai`, dan logos yang bermakna `teori` atau `penalaran`, artinya sebagai teori tentang nilai yang diinginkan atau teori tentang nilai yang baik dan dipilih. Teori ini berkembang sejak jaman Plato dalam hubungannya dengan pembahasan mengenai bentuk atau ide (ide tentang kebaikan).
Di dalam praktek manajemen, ada lima nilai yang kiranya menjadi titik tolak, yakni nilai-nilai: Pengabdian, Kemanusiaan, Ekonomi, Lingkungan hidup dan Estetika.
Aksiologi merupakan suatu pendekatan yang menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain nilai-nilai tersebut ditanamkan dalam pribadi para pemimpin bisnis (Manajer), staf dan pegawai. Sesuai dengan tujuannya, maka manfaat manajemen SDM  adalah:
1.    Terwujudnya suatu proses kegiatan perekonomian yang Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.
2.    Terciptanya pelaku kegiatan manajerial yang aktif mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
3.    Tercapainya tujuan perekonomian secara efektif dan efisien.
4. Tercapainya pemberdayaan yang signifikan sebagai upaya untuk meningkatkan pembangunan dan kualitas hidup manusia
Permasalahan aksiologi meliputi sifat nilai, tipe nilai, kriteria nilai, status metafisika nilai. Pada adasarnya ilmu harus digunakan untuk kemaslahatan umat manusia. Ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup manusia dan kesejahteraannya dengan menitikberatkan pada kodrat dan martabat.Untuk kepentingan manusia, maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh disusun dan dipergunakan secara komunal dan universal sehingga kesuksesan dan kebahagiaan akan tercapai dengan seimbang.Seperti dijelaskan oleh Nana Rukmana (2006:6) bahwa kesuksesan dan kebahagiaan adalah tercapainya berbagai prestasi dan tujuan tertentu, baik dalam hal agama ataupun dunia, yang pengaruhnya tampak secara jelas dalam kehidupan seseorang pada tingkat individu, keluarga, karier dan profesi.

                                                      
KESIMPULAN

   Setelah uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.   Filsafat berasal dari Bahasa Yunani terdiri dari dua suku kata yaitu “Philos” dan “Sophia”. “Philos” biasanya diterjemahkan dengan istilah gemar, senang, atau cinta. “Sophia” dapat diartikan kebijaksanaan. Jadi “filsafat” berarti cinta kepada kebijaksanaan. Menjadi “bijaksana” berarti mendalami hakekat sesuatu.
2.   Ilmu berasal dari bahasa Arab: ‘alima, ya’lamu, ‘ilman, dan wazanfa ’ilayaf ’alu yang artinya ilmu adalah pengetahuan suatu bidang secara sistematis berdasarkan metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang itu.
3.   Filsafat Ilmu merupakan cabang ilmu filsafat yang hendak mengkaji ilmu dari sisi filsafat untuk memberi jawaban terhadap sejumlah pertanyaan yang mencakup apa itu ilmu (Ontologi), bagaimana ilmu itu diperoleh (dijawab dengan Epistimologi) dan untuk apa ilmu itu dilahirkan (Aksiologi).
4.   Manajemen Sumber Daya Manusia adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
5.  Pemberdayaan merupakan terjemahan dari kata empowerment adalah proses yang dilaksanakan secara sengaja dan terus menerus dan  direncanakan serta mempunyai cara dan metode untuk tujuan tertentu agar memiliki nilai kebergunaan untuk dirinya juga lingkungan sekitarnya.
6. Landasan filsafat manajemen sumber daya manusia secara ontologi, epistomologi  dan aksiologi merupakan suatu pendekatan secara teknis dalam usaha untuk meningkatan        pemberdayaan manusia yang saling berhubungan erat dalam konsep pencapaian tujuan yang diharapkan, metode yang digunakan serta hasil yang diharapkan untuk keberlangsungan kehidupan manusia.


REFERENCE

Drijkara, N. (2004). Filsafat Manusia.Yogyakata. Kanisius.
Hasibuan, M. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta. Bumi Aksara.
Kusumaningrum, A. (2012). Dimensi Kajian Filsafat Ilmu. Makalah pada Magister Undip. Semarang: tidak diterbitkan.
Maulidih, S. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia. Modul pada Universitas Brawijaya. Malang: tidak diterbitkan.
Morris, T. (2003). Sang CEO bernama Aristoteles, Sukses Berbisnis dengan Kearifan Filsofis. Bandung. Mizan.
Nazir, M. (2003). Metode Penelitian. Jakarta. Ghalia Indonesia.
Nessa, N. (2014). Buku Ajar Filsafat Ilmu. Modul  pada Unhas. Makassar: tidak diterbitkan.
Rukmana, N. (2006). Meraih Sukses dan Kebahagiaan Hidup. Bandung. Alfabeta.
Snijders,  A. (2004). Antropologi  Filsafat Manusia Paradoks dan Seruan. Yogyakarta. Kanisius.
Sudjana, D. (2001). Pendidikan Luar Sekolah. Wawasan, Sejarah Perkembangan, Falsafah dan Teori Pendukung Asas. Bandung. Nusantara Press.
Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung. Alfabeta.
Suriasumantri, J. (2000). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.
Thomas, C. (1978). Perencanaan Perusahaan Praktis. Jakarta. Balai Aksara
Tim pengembang. (2016). Pedoman Bahasa Indonesia. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta. Depdiknas.
Utama, G. (2012). Logika Ilmu Filsafat. Bahan Ajar pada Universitas Dhiyanapura. Bali : tidak diterbitkan.
_ (2005). Pedoman Peulisan Karya Ilmiah. Laporan Buku, Makalah, Skripsi, Tesis, Disertasi. UPI Bandung. Depdiknas.





[1] Adelbert Snijders, Antropologi Filsafat: Manusia, Paradoks dan Seruan, Yogyakarta: 2004, hlm. 13.
[2] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2000), hlm. 20.
[3] Ibid, hal 33-34.
[4] Malayu Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia. (Jakarta : Bumi Aksara, 2012), hlm. 1.

Tidak ada komentar

HUJAN TIDAK LAGI MENGANTAR CERITA SEDIH 1

Hujan setengah basah membasahi jalan pagi itu, Setangkai mawar putih nampak bergoyang tertiup angin Dibalik lukisan tua   de...